Cara Ampuh Mengatasi Anak Alergi Susu Sapi

0 Comments
Alergi Susu Sapi

Alergi susu sapi terjadi karena sistem kekebalan tubuh memberikan respons yang berlebihan terhadap kandungan protein di dalam susu.

Gejala Alergi Susu Sapi

Reaksi alergi susu terjadi secara berbeda-beda bagi tiap orang. Namun, umumnya reaksi alergi dapat muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah mengonsumsi susu. Gejala-gejala alergi susu yang dapat muncul dengan segera setelah mengonsumsi susu, yaitu:

  • Gatal-gatal atau rasa seperti disengat di sekitar mulut dan bibir
  • Bengkak pada bibir, lidah, atau amandel
  • Muntah
  • Batuk
  • Mengi atau bengek (napas yang disertai bunyi melengking)
  • Sesak napas (dyspnea)

 

Reaksi alergi susu yang muncul dalam waktu beberapa jam setelah mengonsumsi susu, yaitu:

 

  • Diare
  • Muntah
  • Ruam kulit

 

Berikut ini gejala-gejala alergi susu yang bisa timbul pada hari berikutnya sesudah mengonsumsi susu:

 

  • Mata berair
  • Pilek (ingusan)
  • Ruam dan gatal di sekitar mulut
  • Mengi
  • Eksim
  • Diare, dan bisa mengandung darah

 

Selain reaksi alergi yang disebutkan di atas, alergi susu juga menyebabkan reaksi yang lebih serius, yaitu anafilaksis. Anafilaksis merupakan suatu reaksi alergi parah yang dapat menyebabkan kematian. Susu adalah jenis makanan setelah kacang yang dapat menyebabkan reaksi anafilaksis.

 

Anafilaksis menyebabkan saluran pernapasan menyempit dan menghambat pernapasan. Reaksi ini harus segera ditangani di rumah sakit. Beberapa gejala anafilaksis yang patut diwaspadai, yaitu:

 

  • Wajah memerah dan gatal-gatal pada sekujur tubuh
  • Sesak napas
  • Turunnya tekanan darah yang menyebabkan syok

 

Segera temui dokter jika Anda atau anak Anda mengalami reaksi alergi susu atau makanan, walaupun reaksinya tergolong ringan. Dokter akan melakukan serangkaian tes untuk memastikan diagnosis, pengobatan, dan menentukan langkah pencegahan yang sesuai.

Cara Mengatasi Alergi Susu Sapi Pada Anak

Jika Si Kecil Alergi Susu Sapi

Merasa anak Anda mengalami alergi susu sapi? Disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Guna memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, baik pemeriksaan darah, tinja atau tes alergi pada kulit. Caranya adalah dengan menyuntikkan sejumlah kecil protein susu di bawah permukaan kulit anak Anda.

Jangan panik jika ternyata hasilnya positif. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan, jika Si Kecil alergi terhadap susu sapi:

  • Hindari memberikan susu sapi ataupun makanan yang mengandung susu sapi.
  • Hindari produk susu dan olahan susu, jika Si Kecil masih meminum ASI. Sebab, protein susu yang menyebabkan alergi dapat menyatu ke dalam ASI, dan akan berbahaya jika diminum olehnya.
  • Jika Anda memberikan Si Kecil susu formula, ganti susu anak dengan susu formula berbahan dasar kedelai.
  • Jika Si Kecil alergi terhadap susu kedelai, biasanya dokter akan memberikan susu formula hipoalergenik. Pada susu formula ini, protein dipecahkan ke dalam partikel kecil sehingga kecil kemungkinannya untuk memicu alergi.

Siasati Nutrisinya dengan Cara Ini

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tidak mengonsumsi susu sapi cenderung mengalami kekurangan vitamin D. Tapi Anda tidak perlu khawatir, karena itu bisa disiasati dengan memberikan makanan yang kaya akan vitamin D, serta mengandung kalsium dan protein. Makanan yang kaya akan vitamin D antara lain adalah bayam, brokoli, produk olahan kedelai, ikan salmon, tuna, sarden, dan telur.

 

Selain itu, Anda juga bisa mengajak anak bermain di luar ruangan pada pagi hari, agar terkena paparan sinar matahari. Pada saat terpapar sinar ultraviolet B (UVB), tubuh anak Anda akan membentuk vitamin D. Namun, perhatikan juga berapa lama dan kapan saat yang tepat terkena paparan matahari. Dengan hanya terpapar sinar matahari pagi selama 10-15 menit, sebanyak tiga kali seminggu, sudah cukup untuk membuat anak Anda mendapatkan cukup vitamin D.

 

Sekalipun anak didiagnosis memiliki alergi susu sapi, janganlah menyerah dalam memenuhi nutrisi yang dibutuhkannya. Cobalah untuk lebih kreatif dalam memberikan alternatif atau makanan pengganti, agar pertumbuhan dan kesehatan anak tetap terjaga. Jika perlu, konsultasi ke dokter untuk penanganan yang tepat.

 

Tinggalkan Balasan